Wisata Konservasi Penyu - Apa Sih Daya Tariknya?



Arisarmu's Stories - Sea Turtle Conservation yang ada di Gili Trawangan menjadi wisata edukatif yang menarik minat wisatawan untuk bisa mengamati tukik-tukik kecil yang imut. Sehingga semakin sempurnalah liburan mereka di pulau kecil ini.


Konservasi penyu sudah dilakukan di banyak daerah termasuk di Gili Trawangan, namun tak semua pantai memilikinya, walaupun tempat konservasi penyu selalu identik dengan pantai, jadi seandainya anda sedang berwisata pantai dan menjumpai tempat itu sekalianlah mampir melihat kelucuan tukik-tukik kecil, yaitu bayi-bayi penyu sedang berenang di kolam penampungan.

Sebagai satwa yang dilindungi, populasinya di alam sudah semakin sedikit disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu berkurangnya habitat asli, misalkan karena pengembangan wisata disuatu daerah yang tidak ramah lingkungan sehingga dibangunlah banyak prasarana penunjang seperti hotel yang masif sehingga mereka tak lagi bisa bertelur di pantai itu karena semakin banyak wisatawan dan juga predator yang memakan telur maupun memangsa tukik yang sedang merayap di pantai menuju ke laut serta ulah manusia yang menjadikan daging penyu sebagai makanan, juga menjadikan tempurungnya sebagai hiasan. Sehingga jika tak dilakukan tindakan pelestarian yang nyata,  bisa-bisa penyu hanya tinggal nama saja yang tak bisa dilihat wujud aslinya oleh anak cucu kita nanti.

Menurut Wikipedia, kura-kura laut atau penyu bisa ditemukan di semua samudra di dunia bahkan para ilmuwan percaya bahwa penyu sudah ada sejak 148 - 208 juta tahun yang lalu. Hewan ini bernafas dengan paru-paru sehingga secara berkala harus naik ke permukaan untuk mengambil nafas. Mereka sangat mahir  berenang karena memiliki sepasang tungkai depan seperti kaki pendayung. Penyu sebagai hewan yang menghabiskan banyak waktu berkelana di dalam air dan tak suka menetap pada satu tempat, sehingga ketika telur menetas dan menjadi tukik yang lahir di pantai Gili Trawangan misalnya, bisa jadi ketika dewasa akan ditemukan di sebuah pantai di negara lain.

Pada sore yang cerah ketika saya sedang bersepeda berkeliling Gili Trawangan dan di tepi pantai melihat sebuah bangunan sederhana dan melihat beberapa wisatawan asing di dalamnya sambil mengamati sesuatu. Ternyata tempat itu adalah Gili Trawangan Sea Turtle Conservation. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihatnya. Lalu ku parkirkan sepeda di depan tempat itu. Kemudian kumelangkah menuju ke dalam bangunan terbuka beratapkan jerami seluas sekitar 20 x 15 meter persegi yang terdapat beberapa kolam kaca yang terisi dengan beberapa tukik tiap kolamnya.

Gili Trawangan Sea Turtle Conservation


Didalamnya di sebelah kiri ada papan yang menerangkan tujuan dari konservasi penyu dan siklus kehidupannya secara umum yaitu:
Induk penyu mendarat ke pantai untuk bertelur dengan menggali lobang. Pada umumnya nelayan atau petani di Gili mengumpulkan telur-telur tersebut untuk dijual di Lombok, tetapi balai konservasi penyu memberi alternatif lain yang lebih menguntungkan jika mereka menjualnya ke balai konservasi tersebut dengan demikian juga turut berperan melestarikan lingkungan. Setelah itu telur-telur penyu itu di kubur di pasir agar bisa menetas secara alami sambil tetap dijaga agar aman. Setelah menetas tukik-tukik kecil itu di pelihara dalam kolam penampungan, dan ketika mereka sudah mulai kuat dan cukup umur mereka dilepas kelaut untuk mengarungi kehidupan mereka sesungguhnya. Untuk biaya operasionalnya, mereka menerima donasi dari para pengunjung yang uangnya akan digunakan untuk membayar karyawan, biaya listrik, pompa sebagai stimulator arus laut, perawatan tempat, pengobatan maupun pakan tukik.

Walaupun saya tak melihat proses pelepasan tukik-tukik itu ke laut, namun wisata konservasi penyu telah memberikan saya tambahan pengetahuan akan pentingnya melestarikan lingkungan khususnya pelestarian penyu. Apakah anda pernah mempunyai pengalaman yang sama?